Kisah Howard Schultz "Menyulap" Bisnis Starbucks
Andrew Walker
Updated on March 26, 2026
Lihat Foto
Howard Schultz(KOMPAS/ANDREAS MARYOTO)
JAKARTA, KOMPAS.com - Starbucks merupakan salah satu coffee shop ternama yang kini bisnisnya telah menjamur di kota-kota besar di dunia, termasuk di Indonesia. Nama besar di balik suksesnya bisnis kopi itu adalah Howard Schultz yang merupakan orang terkaya di dunia urutan ke-988.
Howard Schultz merupakan pria kelahiran Brooklyn New York pada 1953. Di usianya yang kini 70 tahun, Howard Schultz mencatatkan jumlah kekayaan bersih sebesar 3,1 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 56,2 triliun (kurs Rp 15.624 per dollar AS).
Mengutip Forbes Real Time Net Worth Kamis (19/1/2024), harta Schultz susut 15 juta dollar AS atau Rp 234,3 miliar, atau 0,48 persen dari jumlah kekayaan sebelumnya.
Baca juga: Dampak Konflik Israel-Hamas ke Bisnis Starbucks, Apa Saja?
Howard Schultz mengawali kariernya dengan bekerja di Starbucks pada 1982. Dia sempat resign dan membuka usaha Il Giornale. Namun kemudian mengakuisisi bisnis Starbucks pada 1987.
Di bawah kepemimpinan Schultz, usaha coffee shop itu berubah menjadi franchise dan kini menjadi salah satu brand coffee shop yang banyak dikenal masyarakat di seluruh dunia.
Schultz menjadikan Starbucks sebagai perusahaan publik pada 1992, yang masuk dalam indeks Nasdaq, di bursa AS atau Wall Street, dengan kode SBUX.
Baca juga: Perusahaannya Jadi Korban Boikot, CEO Starbucks Akhirnya Buka Suara
Lewat pendanaan di bursa AS, Starbucks memperluas toko yang awalnya hanya 11 toko, menjadi 35.000 toko di seluruh dunia. Saat ini, Starbucks bukan hanya menjual produk kopi dan kue saja, namun juga menjadi social hub bagi banyak orang.
Schultz menjabat tiga kali sebagai CEO, dan terakhir kali mengundurkan diri pada awal 2023. Pada 2020. Schultz sempat ingin mencalonkan diri menjadi Presiden AS, namun upaya ini tidak terlaksana.
Schultz menikah dengan Sheri Kersch pada 1982 dan tinggal di Seattle, Washington. Keduanya memiliki putra bernama Eliahu Jordan Schultz dan seorang putri bernama Addison Schultz.
Baca juga: Terimbas Protes Konflik Israel-Hamas, Penjualan Starbucks Lesu di Akhir Tahun
Schultz mendirikan Family Foundation yang berfokus pada investasi, pelatihan, dan perekrutan veteran, dan pemuda.
Melalui perusahaan Vanture Capital miliknya, Schultz mendiversifikasi bisnisnya dengan mendirikan beberapa usaha seperi, Groupon, Madison Reed, Allbirds, dan Lucy.
Baca juga: Starbucks Bantah Donasikan Keuntungan untuk Israel
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Pilihan Untukmu
`); var wSpecStop = createElementFromHTML(`
Konten disembunyikan.
Muat ulang halaman untuk perbarui rekomendasi.